Sabtu, 10 Mei 2008

Madinatunnajah : Tahun Harapan

"Ibarat orang menanam, kini saatnya kuncup bunga mulai bermekaran". Demikian kata-kata yang selalu diungkapkan oleh Pimpinan Pondok Pesantren Madinatunnajah KH. M. Agus Abdul Ghofur, M.Pd. di sela-sela rapat mingguan. Agaknya, kata-kata tersebut tidaklah berlebihan. Karena sejak pesantren tersebut didirikan sepuluh tahun yang lalu - dengan segala dinamika dan problemnya - sekaranglah waktu yang ditunggu-tunggu, dimana perjuangan mulai menampakan hasil dan manfaat yang berlimpah. Bersambung........................!

Jumat, 09 Mei 2008

Urgensi Nasehat


Nabi kita Muhammad s.a.w. dalam sebuah sabdanya pernah mengatakan, bahwa “Al-dinu Al-nashihah”, agama adalah nasehat. Kata-kata ini, tidaklah terucap dari lisan Nabi, terkecuali memiliki nilai yang sangat penting – terkait dengan kemashahatan agama itu sendiri dan para pemeluknya. Kemudian, dalam surat Al-Ashr, surat yang ke -103 dari Al-Qur’an, yang senantiasa dibaca oleh para sahabat, dan mungkin oleh sebagian dari kita, Allah s.w.t:
“وتواصو بالحق وتواصوا بالصبر”,
Artinya: dan saling berpesanlah kalian (nasehat-menasihati) tentang kebenaran dan kesabaran.
Dari pernyataan nabi dan keterangan yang disuguhkan oleh Allah tersebut, maka sangat jelas bagi kita, bahwa nasehat… adalah hal yang sangat penting, bahkan menjadi prioritas. Karena nasehat adalah petunjuk, petuah, atau buah fikir yang baik untuk dijadikan pertimbangan bagi yang mendengarnya. Maka kalau kita perhatikan, salah satu dari sekian manhaj yang diterapkan oleh Islam, dalam rangka menyebarkan dakwah kepada Allah, adalah al-tarbiyah bi al-mauidzoh (pendidikan melalui nasehat).
Kalau kita mencoba untuk mengibaratkan, nasehat tak ubahnya seperti cincin permata atau kalung berlian. Agar cincin atau kalung tersebut menjadi lebih indah, elegan, eksotis, dan bermakna bagi seseorang, maka ada beberapa hal harus diperhatikan. Pertama, siapa yang memberikan cincin atau kalung tersebut. Kedua, pada tangan atau leher siapa, cincin atau kalung tersebut dikenakan. Artinya, baik yang memberi atau yang menerima, kedua-duanya harus orang-orang yang tepat. Sehingga, sesuatu yang indah akan menjadi lebih indah. Sesuatu yang baik akan menjadi lebih baik lagi.
Karenanya, ketika Al-Imam Al-ghozali diminta untuk memberikan sebuah nasehat, beliau pernah mengatakan: “ Sesungguhnya, nasehat itu adalah zakat, dan nisabnya adalah mengambil pelajaran. Maka bagaimana mungkin, seseorang yang belum sampai nisab akan memberikan zakatnya? Bagaimana mungkin orang yang gelap kehidupannya akan menerangi jalan orang lain? dan bagaimana mungkin kayu yang bengkok akan memiliki bayang-bayang yang lurus? Demikian ungkap Al-Ghozali kepada Syekh Abu Fath bin salman. Maka, penulis berharap, mudah-mudahan apa yang telah dan akan ditulis di bog ini, sejatinya adalah nasihat yang datangnya dari Rasulullah s.a.w. dan dan orang-orang sholih lainnya, yang memiliki al-yaqiyyah dan ashlahiyyah dalam menyampaikan nasihat dan petunjuk hidup.
Setelah kita memahami tentang urgensi dan nilai positif dari sebuah nasehat, maka marilah kita bersama-sama merenungkan nasihat yang pernah disampaikan oleh Rasulullah s.a.w. kepada para sahabatnya. Rasulullah s.a.w. bersabda, yang artinya adalah sebagai berikut: “ Aku telah tinggalkan untukmu sekalian dua nasehat: 1) nasehat yang dapat berbicara, yaitu Al-Qur’an, dan 2) adalah nasehat yang tidak dapat berbicara (diam) yaitu kematian. Zaenuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari, ketika mengomentari hadits tersebut, dalam bukunya su’al al-qobri, mengatakan: bahwa dengan kedua nasehat tersebut, yaitu Al-Qur’an dan kematian, setiap muslim akan memperoleh kecukupan. Sehingga, bagi siapa yang selalu mengambil pelajaran dari keduanya, akan selamat di dunia dan akhirat. Berikut adalah keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki Al-Qur’an:
1. Al-Qur’an adalah jamuan Allah yang sangat lezat, dimana setiap muslim diperintahkan untuk menyantapnya dengan lahap.
القرآن مأدبة الله, فكلوا من مأدبته ماستطعتم (رواه البخارى ومسلم)
2. Al-Qur’an adalah satu-satunya kitab yang dapat memberikan syafaat di hari pembalasan, kepada siapa saja yang mau membaca, memahami, dan mengamalkan ajaran-ajarannya.
اقرأوا القرآن فإنه يأتى يوم القيامة شفيعا لأصحابه (رواه الترمذى)
3. Al-Qur’an adalah petunjuk hidup, obat hati dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
وما أنزلنا عليك الكتاب إلا إلا لتبين لهم الذى اختلفوا فيه وهدى ورحمة لقوم يؤمنون(النحل: 63)
وننزل من القرأن ما هو شفاء ورحمة لما فى الصدور( الإسراء: 82)
Sedagkan kematian adalah sebuah keniscayaan yang pasti datangnya, dan akan dirasakan oleh setiap yang hidup. Allah berfirman dalam beberapa ayat yang berbeda di dalam Al-Qur’an sebagai berikut:
كل نفس ذائقة الموت
Setiap jiwa akan merasakan, bahwa kematian membawa konsekwensi yang sangat berat, terkait dengan perlakuan dan perbuatan seseorang selama di dunia.
أينما تكونوا يدرككم الموت, ولو كنتم فى بروج مشيدة.
قل, فإن الموت الذى تفرون منه فإنه ملاقيكم
Betapapun cinta seseorang terhadap dunia dan seluruh kemewahan yang ada di dalamnya – baik harta, keluarga ataupun yang lainnya – kalau ajal sudah menjelang, maka kematian itu akan datang. Tapi, tak seorangpun beroleh pengetahuan tentang kapan, dan dimana dirinya akan meninggal. Allah berfirman:
وما تدرى نفس, مذا تكسب غدا, وما تدرى نفس بأى أرض تموت.
“Setiap yang hidup, pasti akan akan mati”. Inilah sebuah postulat yang tidak disangsikan lagi kebenarannya oleh seorangpun – dari dulu hingga sekarang. Lalu, apakah gunanya nasihat dari Rasul tesebut? Sebenarnya, yang menjadi initi dari nasehatnya adalah, beliau ingin mengingatkan kita, tentang apa yang sudah dan akan kita persiapkan ketika menghadap Allah s.w.t. Karena inilah yang banyak kita lupakan. Sahabat Anas bernah berkata, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Setiap manusia akan menjadi tua, tapi, ada dua perkara yang tidak akan pernah tua, yaitu: keinginan terhadap harta, dan keinginan untuk (selalu) berumur panjang”. (HR. Bukhori Muslim)
Dari nasihat Rasul tadi, kita dapat menarik kesimpulan, bahwa manusia – secara garis beras - terbagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama, adalah mereka yang perhatiannya selalu tertuju pada realita kehidupan dunia, dan mereka selalu berangan-angan untuk berumur panjang, tanpa memikirkan akhir hayatnya. Orang-orang seperti ini, tak ubahnya seperti para buruh, atau para pekerja yang super sibuk dengan masalah-masalah keduniaannya. Tapi sebenarnya, mereka adalah pengangguran, bahkan gelandangan untuk masalah-masalah keakhiratan. Mereka hanya berpayah-payah dan meletihkan badan, tanpa hasil yang berguna. Karena setelah itu, mau tidak mau, suka tidak suka, mereka harus menyerahkan badan mereka pada cacing-cacing dan belatung-belatung tanah. Sedang kelompok yang kedua, adalah orang-orang yang bijaksana, yang menjadikan akhir hayatnya sebagai bagian dari perhatiannya. Sehingga, mereka senantiasa berhati-hati dalam menjalani kehidupan, dan berkonsentrasi dalam menjalankan ketaatan. Mudah-mudahan, kita termasuk kedalam kelompok yang kedua ini. Amin!
n

Minggu, 04 Mei 2008

PROSEDUR PEMBUATAN PASPOR

Anda tau kan, apa itu paspor? Secara sederhana, paspor adalah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang (Kantor Imigrasi) dari suatu negara. Dimana di dalamya terdapat identitas pemegangnya secara mendetail. Tujuan diberikannya paspor kepada seseorang, adalah agar yang bersangkutan dapat melakukan perjalanan antar negara dengan legal.

Untuk memperoleh dokumen yang bernama paspor tersebut, tidak terlalu sulit. Tapi, tidak juga mudah. Pendeknya, gampang-gampang sulit lah. Gampang bagi siapa? jelaslah, bagi yang punya duit. Tapi bagi yang anggarannya pas-pasan, banyak-banyaklah bersabar.

Syarat-syarat, atau ketentuan yang ditetapkan oleh Pihak Imigrasi untuk memperoleh paspor, biasanya meliputi hal-hal berikut: Kartu Identitas, Kartu KK, Akte Kelahiran, Ijasah, Surat Rekomendasi dll. Adapun biaya yang harus dikeluarkan untuk memperoleh dokumen tersebut kurang lebih dua ratus tujuh puluh lima ribu rupiah. Biasanya, paspor akan selesai setelah satu, atau dua minggu pasca pengajuan. Cukup menyita waktu kan? Tapi bagi yang tidak punya cukup waktu untuk menunggu selama itu, ga usah takut, yang penting ada pelicinnya. Dengan menambah empat ratus ribu lagi, urusan jadi beres. Dalam jangka waktu selambat-lambatnya dua hari, semua bisa kelar. Cukup enak kan?...

Nah, bagi yang sudah memiliki dokumen paspor, harap hati-hati, dijaga baik-baik tuh paspornya. Karena, cukup repot urusannya kalau sampai hilang. Karena, kalau yang bersangkutan ingin mengajukan kembali, untuk mendapatkannya, cukup sulit persaratannya. Apalagi sekarang sudah menggunakan sistem biometrik. Jadi, dimanapun anda buat, pasti akan ketahuan. Ga bisa deh bohong lagi deh!

Bagi yang kehilangan, paling tidak prosedurnya seperti ini: 1, Harus meminta Surat Hilang Paspor dari pihak kepolisian. 2, Harus proses BAP dulu di Kantor Imigrasi yang bersangkutan. 3, Harus meminta rekomendasi dari KANWIL setempat, tentang boleh tidaknya diberikan paspor untuk yang kedua kalinya. Kalau itu semua sudah dijalani, dan tujuannya dianggap benar, kemungkinan anda akan diberikan paspor untuk yang kedua kalinya. Cukup repotkan?

Tapi, lagi-lagi ada kabar gembira bagi yang memiliki cukup anggaran (jangan keras-keras ngomongnya, bisik-bisik aja), dengan biaya delapan ratus ribu rupiah, urusan anda akan menjadi lancar. Anda tida perlu lagi ke mengunjungi kantor kepolisian, ke KANWIL dll. Cukup nyaman kan?

SI PENCURI SHOLAT

Kedudukan sholat dalam Islam, sangatlah penting. Kalau Islam diibaratkan dengan sebuah rumah atau bangunan, maka sholat adalah pilarnya, yang akan menyanggah dan menegakan setiap sisi dari rumah atau bangunan tersebut. Sehingga, tampaklah rumah tersebut sebagai sebuah bangunan yang sangat kokoh dan kuat, baik dari terpaan angin, hujan, bahkan gempa bumi sekalipun.
Karenanya, tidaklah berlebihan kalau Nabi pernah mewanti-wanti, bawha “sholat adalah tiang agama. Siapa yang mendirikannya, maka telah menegakan dan menopang eksistensi agama itu sendiri, dan siapa yang melalaikannya (meninggalkan dengan sengaja), maka telah membiarkannya jatuh dan ambruk”.
Kalaulah Nabi pernah berm’raj menuju Allah s.w.t. secara langsung, maka sebenarnya, sholat merupakan mediasi bagi setiap muslim, agar dapat mi’raj dan menuju kepada-Nya. Karena ketika seorang muslim menunaikan sholat, maka jiwa dan fikirnya akan naik, membumbung, dan berpindah dari alam materi menuju alam yang sangat tinggi, jernih, lagi suci. Dengan demikian, seorang muslim dapat berkomunikasi secara langsung dengan Tuhannya, berpengharapan, dan berkomitmen dalam menjalani hidup dan kehidupan.
Maka sudah selayaknya kalau setiap muslim menjadikan sholat sebagai sumber inspirasi, penenang jiwa, dan problem solver atas setiap permasalahan yang dihadapinya (qurrota aen). Meskipun demikian, tidak setiap muslim terpanggil kesadaran jiwanya, untuk mereguk madu dan kelezatannya – dengan melaksanakannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya sholat, amat sangat berat (untuk dilakukan), kecuali bagi orang-orang yang khsusyu dalam melaksanakannya” bahkan “Maka datanglah sepeninggal mereka, golongan yang menyia-nyiakan sholat, bahkan mereka cenderung mengikuti hawa nafsu, maka pantaslah kalau yang mereka temui adalah kesesatan”. (QS. Maryam, 59).
Dengan melihat realita yang ada, kita yakin bahwa sebagian besar dari kita – kaum muslimin – sudah melaksanakan sholat. Namun sungguh sayang disayang, sholatnya tidak dapat mengarahkan kepribadiannya kepada sesuatu yang baik. Mereka sholat tapi mereka juga berjudi. Mereka sholat tapi mereka juga korupsi. Mereka sholat tapi mereka juga menipu. Mereka sholat tapi mereka juga berbicara kotor. Dan demikian seterusnya. Padahal Allah berfirman: “Sesungguhnya sholat itu, akan mencegah dari segala yang keji dan mungkar”.
Sungguh, yang menjadi penyebab itu semua adalah, karena mereka kehilangan ruh atau inti dari sholat yang mereka kerjakan. Mereka tidak khusu’ dan thuma’nina dalam melaksanakannya. Sebaliknya, mereka bergerak seenaknya. Padahal nabi bersabda : “ Sesungguhnya, seburuk-buruk pencuri adalah orang yang mencuri sholatnya, yaitu: yang tidak menyempurnakan ruku, sujud, dan tidak pula mengerjakannya dengan khusyu. (HR. Muslim)Perumpamaan sholat mereka adalah, seperti pakaian rusak yang dilipat, yang kemudian dilemparkan kembali kepada sipemiliknya. Naudzu billah……
Maka, marilah kita belajar untuk memaksimalkan sholat kita, dengan menyempurnakan syarat dan rukunnya. Kemudian, melaksanakannnya dengan penuh kekhusyuan dan keikhlasan. Karena khusyu dalam sholat, tak ubahnya seperti kepala bagi tubuh. Kita tidak dapat berbuat apa-apa tanpa kepala. Dan sholat kitapun, tak cukup berarti tanpa kekhusyuan. Akhirnya, marilah kita berdo’a, semoga kita digolongkan kedalam hamba-hamba-Nya yang beruntung, yang senantiasa melaksanakan sholat dengan penuh kekhusuan dan keikhlasan.. Allah berfirman: “Sungguh sangat beruntung, orang-orang yang beriman, yang khusyu’ dalam mengerjakan sholatnya”. (QS. Al-Mu’minun, 1-2)

SUARA HATI


Zaman, masa, kala, atau apapun namanya - sejak dulu hingga kapanpun, sebelum dunia ini melewati ambang batasnya - senantiasa menyiapkan tempat yang sangat istimewa, bagi siapapun yang secara lahir maupun batin telah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Kalau kau bertanya kenapa? jawabku, “Iitulah Aturan-Nya, yang senantiasa menyesuaikan diri dalam setiap waktu dan keadaan “.

Karenanya, jangan lagi berfikir tentang kekurangan-kekurangan yang dapat membawa diri menjadi terhanyut dan tersapu oleh tetesan hujan, bahkan percikan air sekalipun. Sebaliknya, kau harus berpikir keras, bagaimana cara melepaskan diri dari kemelut yang senantiasa menghantui jiwa dan perasaan, yang mungkin saja dihembuskan oleh syetan, nafsu diri, dan ataupun yang lainnya. Sebaliknya kau nyatakan, bahwa hamparan kehidupan pada masa–masa mendatang adalah samudra yang dapat kau arungi, meskipun hanya dengn seonggok sampan.

Mulai detik ini, yakinkan hati, teguhkan jiwa, dan kekalkan akalmu, bahwa apa yang akan kau makan esok hari, apa yang akan kau pakai minggu depan, dan apa yang akan kau dapati pada tahun-tahun berikutnya, adalah apa yang kau lakukan pada saat ini. karenanya, jangan lagi kau berfikir, bahwa zaman tidak berlaku adil padamu, tidak memihakmu, bahkan berbuat aniyaya terhadapmu.
Bukankah sudah dikatakan sedari tadi, bahwa zaman akan senantiasa setia menunggumu, dengan segenap harapan dan kasihnya. Kau saja yang cuek dan tidak memperhatikannya. Sehingga bukan salahnya, kalau lamaran orang lain yang diterimanya.

Sesungguhnya yang demikian itu, karena ia hendak berbuat adil, dan menerapkan apa yang sudah disyariatkan kepadanya. Bukan bujukan, iming-iming, ataupun suap. Karena ia, hanya sekeping piringan putih cakram yang telah dibakar hidup-hidup, sehingga, tak satupun virus - dari ribuan, bahkan jutaaan yang ada di semesta ini - mampu mengacaukan sistem dan jaringannya. Kalaupun ada sedikit kesalahan, bukan kesalahannya, tapi human eror.

Wahai saudaraku, setetes harapan, akan lebih baik dari sekedar hayal yang muluk. Dan, perlu juga ku beritahukan, bahwa ketika dirimu menginginkan sesuatu, sebelum kau dapat memeluknya, akulah orangnya, yang terlebih dulu bernegoisasi, melobi, bahkan bertarung. Sehingga, hanya dengan sekali hentak saja, kau sampai kepangkuannya.

Namun, haruskah kau kecewakan aku, dengan segenap curahan keringat dan genangan darahku? Karena kau bukan tipe seorang climber atau penakluk? Ku beritahu sekali lagi, bahwa akulah petunjukmu, dan dengan meninggalkanku, berarti kemalanganmu. Teruslah berusaha, berbakti dan berjuang untuk kejujuran dan kemenangan. Karena aku, tak dapat melihat yang sebaliknya.

HAJRUL QUR’AN

Kata “hajr” bisa disandingkan dengan kata “hijrah”. Karena keduanya, memiliki pengertian yang sama, yaitu meninggalkan. Hijrah yang senantiasa kita dengar, biasanya berkonotasi positif. Karena selalu diidentikan dengan perubahan kearah yang baik. Seperti hijrahnya Rasul dan para sahabatnya dari Makkah menuju Madinah, atau hijrahnya seorang muslim dari jalan syetan menuju jalan Allah. Tapi, dalam salah satu ayat al-Qur’an, Allah s.w.t. menggunakan kata hajr untuk sesuatu yang sangat negatif. yaitu, berkenaan dengan sikap Ummat Islam yag cenderung meninggalkan nilai dan ajaran Al-Qur’an. Atau, yang disebut oleh Muhammad Ali Al-Shobuni dengan Hajrul Qur’an.
Ketika Rasul masih hidup, beliau sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa Hajrul Qur’an memang benar-benar terjadi. Dan, inilah yang sangat membuncahkan kegundahan dan kegelisahan di hati beliau. Sehingga, dengan terus terang, beliau mengadukan hal ini kepada Allah s.wt., sebagaimana yang tercatat dalam surat Al-Furqon ayat 30: “ dan Rasul berkata: “ Tuhanku, sesungguhnya kaumku, talah meninggalkan Al-Qur’an”.Padahal, Al-Qur’an adalah jamuan Allah, dimana setiap muslim diperintahkan untuk menyantapnya dengan lahap (HR: Bukhori Muslim), kemulyaan Ummat Islam (HR: Tirmidzi), dan satu-satunya kitab yang dapat memberikan syafaat dihari pembalasan, kepada siapa saja yang mau membaca, memahami, dan mengimplementasikan ajaran-ajarannya (HR: Tirmidzi). Bahkan lebih jauh Allah menandaskan, bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk hidup, obat hati dan rahmat bagi seluruh alam (QS: Yunus: 38 )
Kemudian, kaitannya dengan zaman kita, dimana Ummat Islam banyak bergumul dengan materialisme dan hedonisme, maka dapat dipastikan, bahwa Hajrul Qur’an akan semakin banyak terjadi. Tanda-tandanya sudah jelas dan nampak. Banyak diantara Ummat Islam, yang menganggap Al-Qur’an sebagai sesuatu yang usang dan lapuk, tanpa makna dan nilai. Al-Qur’an hanya sebagai penghias ruangan atau perpustakaan, yang kalah oleh buku dan bacaan lainnya. Atau, Al-Qur’an hanya sebatas bacaan untuk orang yang sudah meninggal, dan media untuk mengusir hantu dan setan. Padahal, tujuan diturunkannya Al-Qur’an adalah agar dapat memberikan peringatan kepada orang yang hidup, dan masih banyak lagi, sebagaimana tertera di atas. Karenanya, dengan nada yang cukup keras, seorang Ulama Kenanaan Islam, Ibnu Taemiyah, Mengatakan: “ Siapa yang tidak membaca Al-Qur’an, maka telah meninggalkannya; siapa yang membacanya, tapi tidak berusaha untuk memahami maknanya, maka iapun telah meninggalkannya; dan siapa yang telah membacanya, kemudian telah berusaha untuk memahami maknanya, tapi tidak mempraktekan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari, maka diapun telah meninggalkannya”.
Maka siapapun kita, yang menghendaki kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, tidak ada cara lain, kecuali dengan berpegang teguh kepada Al-Qur’an itu sendiri, disamping hadits Nabi. Karena keduanya adalah pusaka yang tidak akan pernah lekang dimakan waktu. Tapi sebaliknya, akan memberikan kesuburan di hati yang kering, ketercerahan pada jiwa yang gelap, dan petunjuk bagi diri yang sesat.
Kita contoh kehidupan Para Sahabat, yang tidak pernah kering bibirnya dari membaca Alqur’an, tidak pernah jenuh jiwa dan pikirannya dari semangat untuk memahami isi kandungannya, dan tidak pernah lepas seluruh aktifitasnya dari nilai dan ajarannya.Suatu kali, Rosul berjalan menyusuri kegelapan malam yang menggigil, menyusuri pemukiman para sahabat-sahabatnya, tiba-tiba langkahnya tertahan, serasa terpaku oleh sesuatu. Ternyata, dibalik malam yang sudah larut, di antara mata-mata yang sudah terpejam karena letih, masih terdengar olehnya sayup-sayup, suara orang yang sedang membaca dan memelajari Al-quran…subhanallah! Dengan demikian, kita berharap, mudah-mudahan Al-Qur’an dapat menjadi hujjah bagi kita, dihadapan Allah s.w.t, dan bukan sebaliknya (Hadits Shohih).

Proses Seleksi Beasiswa Al-Azhar Mesir 2008

Mesir, dengan seluruh pesonanya yang indah - kurang lebih sebagaimana yang digambarkan oleh Habiburrahman Al-Sirazy dalam novelnya - memiliki daya tarik tersendiri di mata komunitas international. Negri tempat kelahiran Nabi Musa a.s. tersebut memiliki kekayaan budaya yang luar biasa hebatnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai sepiritual. Maka tak heran, kalau negara tersebut menjadi salah satu tujuan paforit turis manca negara.

Dalam perkembangan dunia intelektual, terutama yang berkaitan dengan pemikiran keagamaan, Mesir masih menjadi salah satu kiblat bagi dunia Pendidikan Islam. Hal ini terbukti dengan masih exisnya Perguuruan Tinggi Islam Klasik (Al-Azhar University), yang meskipun sudah seribu lebih usianya, tapi pengaruh dan kemasyhurannya masih tetap terjaga hingga saat ini.

Setiap tahun ajaran baru, Al-Azhar selalu dipenuhi oleh murid-murid yang datang dari berbagai belahan penjuru dunia. Diantara mereka ada yang datang dengan beasiswa penuh (minhah dirosiyah) dan dengan biaya sendiri. Semua itu mereka lakukan dengan penuh perjuangan dan harapan, demi menimba ilmu di samudra Afrika yang bernama Al-Azhar.

Bulan April yang baru saja berlalu kemarin, menjadi saksi bisu tentang antusiasme pelajar-pelajar Indonesia yang ingin menimba ilmu di samudra Al-Azhar. Pada tes iltihaq yang diadakan di Kedutaan Besar Mesir tersebut, tercatat ribuan pelajar datang dari hampir seluruh provinsi di Indonesia. Padahal, beasiswa yang disediakan hanya cukup untuk 90 pelajar yang dianggap memenuhi standar kualifikasi. Inilah bukti dari magnit yang masih dimiliki oleh Al-Azhar.

Kalau kita melihat proses recrutment pelajar-pelajar Indonesia yang akan diberangkatkan ke Mesir tahun ini, terlihat ada sesuatu yang tidak lazim. Karena, sebagaimana biasanya, proses tersebut dilakukan di Perguruan-perguruan Tinggi Negri di Seluruh provinsi - melalui Departemen Agama. Ada apakah gerangan dengan DEPAG?

Ternyata, selidik punya selidik - salah satu sebabnya - pihak Al-Azhar kurang percaya dengan kinerja DEPAG saat ini. Karena ternyata, dari proses recrutment tersebut, banyak yang dianggap tidak proporsional, tidak berdasar pada fit and profer test yang benar. Sehingga, dampaknya, banyak pelajar Indonesia yang tidak lulus ujian di Al-Azhar untuk tahun ini. Bermula dari situlah pihak Al-Azhar mengirimkan langsung Tim Pengujinya, yang terdiri dari Roisul bi'tsah dan anggota-anggotanya. Dan akhirnya, ujianpun disentralkan di satu tempat, yaitu Kedutaan besar Republik Indonesia.

Mudah-mudahan, dengan cara yang demikian, akan terserap pelajar-pelajar yang memang berkualitas tinggi, yang nantinya akan membesarkan dan mengharumkan nama Bangsa Indonesia di mata dunia international. Wallahu A'lam!